perbedaan itu menghadirkan harmoni

Text

apabila kau pepohonan di hutan

akulah burung yang berkicau

diantara dahan - dahan

apabila kau lautan

akulah kapal yang berlayar

ke pulau impian

Waluyo DS

"perjalanan tidak diukur dari seberapa jauh jarak yang kamu tempuh, tapi seberapa banyak kamu bersilaturahmi dengan orang-orang yang kamu temui, menjalin pertemanan dengan mereka"

-

"berkaryalah sebelum kamu mati. orang-orang tidak akan mengingatmu tanpa karya"

- sholahuddin

"menulislah. selama engkau tidak menulis, engkau hanya akan dilupakan masyarakat dan hilang dari pusaran sejarah."

- pramoedya ananta toer

Text

Siang ini ada yang mau aku ceritakan padamu kawan,

ketika disuatu siang ada kakek renta, mungkin usianya 70 tahun lebih, menghampiri beranda rumahku yang lenggang

rumahnya mungkin berjarak lebih-kurang 50 kilometer dari rumah kami

datang sambil tersedu sedan

orang dirumahku tersentak kaget, melihat seorang lelaki renta datang tergopoh-gopoh dengan tubuh menggigil gemetar

lalu menceritakan ironi keluarganya yang kelu kudengar

lelaki renta itu mengisahkan tentang istrinya yang amat ia cintai telah tiada, membawa cinta mereka kekal abadi

lalu menceritakan tentang anak-anaknya yang kini pun telah tiada, menghambur bersama sang ibu di alam kekal dan hanya menyisakan satu anak perempuannya

hanya bersama satu anak perempuannya itulah lelaki tua itu hidup dan mengisi hari-harinya

pilu dan kelu kudengar ia bercerita sambil gemetar dan sesekali air mata tumpah dari pelupuk mata yang kian sayu

terisak ia bercerita tentang ironi yang tak kunjung meninggalkannya, bahkan ketika usianya telah jauh senja dan tubuhnya kian rapuh tak bertenaga

ini potret wajah negeri kita kawanku,

yang selalu saja bergumul dengan kelu dan pilu

dari lahir sampai senja usia pun tak kunjung merasakan janji kemerdekaan leluhur

 

jumat, 9 desember 2011 jam 11:00

Text

Kepadamu yang sedang berada di Bandung

@margaretharnita

 

Susah sekali aku memunculkan sinyal di layar handphoneku

Sudah sejak tiga hari yang lalu dia selalu tak mau muncul dilayar handphone, selama itu pula aku tak bisa menanyakan kabarmu

 

Kabarnya kau sedang berada di Bandung ? Kota impian yang selalu mengundang kita berkunjung kesana, seperti Jogja dan Bali. Maaf bila aku masoh menanyakan kepastian keberadaanmu, karena bahkan aku tak bisa mengantar keberangkatanmu karena diwaktu yang bersamaan aku sedang dihampiri flu yang memaksaku bergumul dengan selimut dan merajut persahabatan dengan pintu kamarku.

 

Kapan kau kembali ? Aku pun tak bisa menanyakannya langsung kepadamu, harus kusampaikan lewat kicauan twitter yang mau tak mau dibaca seluruh followerku. Mungkin kau kembali bersama sinyal dilayar handphoneku esok, atau jangan-jangan kau dengan sengaja membawa sinyal dilayar handphoneku untuk menemanimu berkunjung ke kota itu karena kau tak mampu membawaku ikut serta dalam perjalananmu ?

Text

Kepada : segenap mimpiku

 

Apa kabar kalian ?

Apa kalian masih sabar dan baik-baik saja aku pelihara dalam ingatan ? Yang jarang aku tengok atau sekedar atau tulis di secarik kertas agar kalian merasa lebih segar.

 

Bagaimana kabar “pendaki gunung”, “pengusaha”, “jurnalis”, “fofotgrafer”, “sarjana”, “master”, “doktor”, “pengajar”, “pengusaha” dan “presiden Indonesia” ? bagaimana pula kabar si bungsu “penulis” ? Aku dengar dia yang paling sering merengek untuk segera ditemui.

Apa kalian baik-baik saja ? Apa kalian masih nyaman tinggal di alam ingatan dan bermain bersama mimpi-mimpiku yang lain ? Aku harap kalian semua baik. Aku akan menemui kalian satu persatu kelak jika waktunya tiba, jika aku telah diijinkan oleh Tuhan untuk bertemu kalian.

 

Dari sekian banyak kalian, “penulis” seringkali menemuiku, diperempatan jalan, dipinggir halaman buku, atau bahkan disudut kamarku. Dia manja sekali dan haus akan kesegaran, itu sebabnya akupun sering menuliskan surat khusus untuknya, untuk membuatnya tetap segar. Aku takut dia mati, seperti teman-teman kalian yang sudah mati lebih dulu, atau hampir mati karena tak pernah aku pelihara. Sekali lagi maafkan aku.

 

Sekarang ini, Ingin aku sampaikan pada kalian, bahwa menjaga mimpi ditengah kehidupan sekarang ini serba sulit. Kebanyakan teman-temanku menggadaikan mimpinya dengan jaminan hari tua. Ada juga yang bahkan menjual mimpinya hanya dengan segenggam kebahagiaan semu. Maka hanya orang-orang kuat jaman sekarang yang masih mampu menghidupi mimpi-mimpinya. Seperti seorang ayah yang harus mati-matian menghidupi anak dan istrinya. Begitu juga dengan orang-orang pemegang mimpi dijaman sekarang, cobaannya begitu berat kalau kalian tahu. Orang-orang seperti ini kadang diejek, dicemooh, dan dialinasi dari kehidupan yang sekarang serba instan dan dibuat tanpa mimpi lagi. Maka aku harap kalian terus dan terus mengirimkan doa tulus kalian kepada Tuhan, agar aku selalu diberi kekuatan dan ketabahan untuk mempertahankan kalian di barisan mimpiku.

 

Sampaikan pada segenap mimpiku, bahwa sekarang ini aku sedang dalam perjalanan menemui mereka satu persatu, seperti yang sudah kutulis diawal tadi, aku juga sedang menunggu acc Tuhan saja. Aku juga belajar dari teman-teman kalian yang sekarang sudah tiada, “dokter”, “polisi”, “tentara” dan beberapa lainnya. Kata mereka sebelum mati, aku harus sering-sering mengunjungi mimpi-nimpiku dan memperjuangkannya jika tak ingin mimpiku yang lain ikut mati seperti mereka.

 

Oiya, sampaikan juga kepada “penulis” jika aku sudah mempersiapkan kado spesial, sekotak mimpi yang lain, menjadi “suami dari wanita yang aku cintai dan ayah yang heroik bagi anak-anak kami kelak”.

Text

Entah kenapa aku selalu memasukkan kata “penulis” dibarisan mimpiku, selain profesi-profesi bergelimang harta yang diimpikan banyak orang. Bagiku, menjadi menulis itu seperti nabi. Karena ia mampu menyampaikan suara Tuhan (atau suara setan) dalam benaknya kedalam baris-baris tulisan. Penulis bagiku adalah profesi paling merdeka, melebihi kemerdakaan pada arti sebenarnya, lewat tulisan seseorang bisa menjadi tuhan (dengan t kecil) bagi tulisannya. Sewaktu kecil, aku memang tak terlalu akrab dengan tulisan, bahkan dengan tulisan kitab Tuhan pun tak akrab. Namun beranjak remaja, lewat tulisan orang-orang besar yang aku baca, entah bagaimana seakan aku mampu menangkap semangat oarang-orang itu dalam baris tulisannya. Aku bisa tertawa geli, penuh semangat, atau bahkan menangis tersedu membaca baris-baris tulisan orang-orang yang mereka mampu mentransformasikan pemikirannya dalam tulisan itu. Entah bagaimana pula, menjadi seperti itu juga adalah menjadi salah satu yang saya inginkan dalam diri ini. Menjadi seorang yang mampu mengalih bahasakan dari pengalaman, pemikiran, inspirasi, kedalam tulisan. Penulis. Salah satu cita-cita yang sangat dekat dengan kehidupan.

Text

minggu pagi,

aku dengar kau mencariku semalaman

di baris-baris puisiku dan dihalaman belakang bukumu

aku tak pulang semalam ke peraduan mimpimu

jadi tak akan kau temukan namaku di tiap sudut matamu

——————-

aku dengar kau rindu padaku ?

apa yg kau rindukan dariku ?

Yg katamu hilang sejak pertama kita bertemu

——————-

tunggu aku

aku akan datang keberanda hatimu

Membawakan mawar kesukaanmu

Yang kau jadikan hiasan ruangmu hingga layu

——————-

sambut aku dengan hangat cintamu

buang peluh amarahmu

aku pulang malam nanti

Bersama bulan yang bersembunyi dibalik malam ibukota

Text

Baru pertama kulihat kau rembulan malu-malu bersembunyi dibalik punggungmu

mengintip pelan-pelan dengan pantulan sinar mentari yang tersisa

 

ah, rasanya sayang waktuku ini kuhabiskan untuk menulismu,

Biarkan dulu aku sejenak memandangmu, bersama rembulan yang bersemi disampingmu, lawu

Merasakan indahmu lewat pelupuk mataku

Dan kehadiran Pemilikmu lewat pori-pori kulitku

 

Biarkan saja habis malam, sampai rembulan tak tahan menaham malu hingga akhirnya benar-benar bersembunyi dibalik punggungmu

Karena aku bertaruh dengan rembulan siapa yang malu dan bersembunyi duluan

baru akan kurangkai tulisan tentangmu di handphoneku

 

Sampai disuatu ketika adzan subuh berkumandang,

Rembulan melemparkan senyum padaku, lewat kamu

Dan akupun tersenyum padamu, lawu,

Juga pada Pemilikmu :)

 

 

lawu, 11 Desember 2011

Text

Resensi buku “Satu Tuhan Seribu Tafsir”

Abdul Munir Mulkhan

penerbit kanisius cetakan kelima, 2011

 

Buku kecil yang satu ini mungkin berdampak besar bagi pembacanya, terutama kalangan umat beragama yang akhir-akhir ini disuguhi kekerasan berbalut eksklusifitas keagamaan yang kerap muncul di tanah air. Walaupun berbicara dengan sudut pandang islam, abdul munir mulkhan tetap berusaha menjada obyektifitasnya dalam setiap pembahasannya mengenai ketuhanan dan keagamaan yang menjadi isu sosial tak kenal waktu di negeri ini, bahkan didunia.

 

Ketika Tuhan dipersepsikan sebagai sesembahan yang hanya mau disembah dengan satu cara dari agama atau paham keagamaan saja, dialektika tentang Tuhan justru seringkali membuat kekerasan bahkan penghilangan nyawa seseorang menjadi sangat mudah dan murah.

 

Oleh kaum eksklusif tersebut, Tuhan diposisikan sebagai pembenar ketika mereka dengan brutal mencedarai atau bahkan menghilangkan kemanusiaan dari diri seorang manusia itu sendiri. Padahal, menurut Munir, Tuhan memang harus dipandang sebagai Dzat yang Maha Eksklusif, namun cara Tuhan masuk ke dimensi manusia itupun juga menjadi suatu cara Maha Eksklusif dari Tuhan yang menjadi misteri bagi manusia sampai kapanpun.

 

Didalam buku yang mengungkap beberapa kasus kekerasan antar umat beragama atau paham keagamaan atas nama Tuhan ini, Munir mencoba menghadirkan pandangan yang lebih plural dan humanis, tentang bagaimana manusia memposisikan Tuhan sebagai Tuhan, dan tidak merekonstruksi Dimensi Tuhan ke dalam dimensi manusia. Konversi dimensi inilah yang sering memunculkan perdebatan mengenai konversi mana yang benar dan paling menggambarkan Tuhan.

 

Tuhan tetaplah Tuhan dengan Ke Maha Unik an Tuhan, maka bagi manusia yang mengakui adanya Tuhan, patut halnya adalah dengan menghormati Ke Maha Unik an Tuhan itu, supaya upaya setiap manusia untuk dapat menemui Tuhannya tidak terhalangi oleh pembatasan arti dan deskripsi tentang Tuhan yang dibangun oleh kaum keagamaan atau paham keagamaan yang mengklaim bahwa “tuhan” mereka lebih unggul dari “tuhan” umat lain.

 

Cara - cara pemahaman tentang Tuhan yang tidak dilandasi semangat toleransi sebagai akar kebudayaan dan keberagaman manusia malah semakin menjauhkan Tuhan dari ruang hidup manusia. Manusia yang terlalu sibuk mengurusi kebenaran “Tuhan”nya dan menyalahkan “Tuhan” orang lain sering lupa bahwa cara terbaik memahami Tuhan adalah dengan cara manusiawi, cara yang humanis, sehingga Tuhan mampu dihadirkan dalam ruang hidup manusia.

 

Buku ini penting dan layak dibaca bagi seluruh kalangan yang merindukan kedamaian atas nama Tuhan. Bagi mereka yang muak melihat nama Tuhan dibawa kemana-mana hanya untuk melegalkan kekerasan bahkan membunuh sesama makhluk Tuhan itu sendiri.